Monday, December 30, 2013

Jejak kasih.

Selasa, 30 Disember 2013. Ecehh macam buat diari pulak. Rindu pada keluarga kedua terubat juga bila berkumpul di rumah bakal mertuaku. Eh, bukan saya yang cakap. Beliau sendiri yang cakap okeh. Panggilnya ummu. Kalau tersasul, panggillah ummi.


"Eh silap, nak panggil ummu sebenarnya"
"Apa salahnya, wani. Kan sama je tu maksud dia. Panggil ummi pun tak kisah."
"Segan la ummu.."
"Apa la yang nak disegankan"


Jadi pertemuan semalam... walaupun tak semua adik beradik dapat datang, puas hati jugaklah dapat makan sama-sama. Rancang nak balik sebelum Maghrib, lepas Isyak baru jejak kaki kat rumah, peluk cium ibunda sendiri pulak.


Mamanya Aifaa berkata, "Jadilah apa pun yang kita nak jadi, asalkan jangan lupa Al-Quran." Ingat tu. Dan akhir sekali...


Hanya sedikit dari kita yang mendekati al-Qur’an dengan semangat merenungkan dan meningkatkan iman. Kita menganggap bahwa hal terpenting, terkait dengan al-Qur’an, adalah hanya membacanya saja— tak peduli paham atau tidak— dan mengerahkan upaya untuk menghafalnya sesingkat mungkin.


Dengan perlakuan kita seperti itu maka Al-Qur’an ;kian merana dan terasing; ia datang tapi hilang, ada tapi tak ada.


Ia hadir dalam wujud di lidah, tapi roh dan cahayanya halimunan di hati. Ia tidak memiliki roh positif dan denyut spiritual. Kalimatnya dicetak di kertas, disiarkan, diajarkan dan dilambakkan, tapi kandungan maknanya diabaikan, daya pengaruhnya bagi jiwa tak dapat kita rasakan, dan daya ubahnya bagi moralitas tak bisa kita peroleh.

1 comment:

zacky786 said...

terima kasih .. tiba2 rasa diri ini hina